Pengalaman “Spritual” di Medan

Tahun ini 2016, saya memutuskan lebih lama tinggal di Medan. Tahun ini sudah dua kali bolak-balik ke Medan. Dari sebelum puasa, balik ke Jogja lagi, lalu ke Medan lagi sebelum lebaran.

Selama di Medan saya merasa lebih “dekat” dengan YME. Karena di Medan ini lalu lintas amburadul, jadi lebih sering istigfar. Misalnya jika ada simpang empat, yang selatan lampu hijau, maka yang utara juga lampu hijau. Sehingga yang dari selatan tidak bisa ke timur. Begitu juga yang dari utara kesulitan ke barat. Ntah siapa yang mendesain traffic light seperti ini. Karena tolol, atau ada pertimbangan lain? Saya juga tidak punya jawaban pasti. Hal-hal seperti ini tidak pernah saya temui di Jawa, terutama di Jogja.

Lampu merah artinya berani.

Kasus lalu lintas lain, di Medan ini lampu merah artinya berani, bukan berhenti. Sehingga banyak yang melanggar lampu merah. Lampu merah saja dilanggar, apalagi berhenti di belakang garis? Berhenti saat lampu merah, malah dimarahi dari belakang.

Tidak seperti di Jogja yang kalau belok kiri maka ada tulisan “Kiri Langsung”, dan kalau harus ikuti tanda di lampu juga ada tulisannya. Tapi di Medan tidak ada (setidaknya jalan-jalan yang saya lewati). Jadi bingung, seharusnya berhenti atau langsung. Saya yakin pemerintah setempat tidak ada ilmu tentang UX.

Di Jogja, yang saya rasakan, pengemudi cenderung memberi. Misalnya kita lurus, ada kendaraan lain mau belok, maka kendaraan yang mau belok akan memberi jalan ke yang lurus. Di Medan, hadehh… gak mau ngalah. Jadi lebih banyak beristigfar.

Tanggal 14 Agustus, saya ke acara resepsi pernikahan sepupu di Hotel Emerald. Saat dipersilahkan makan, saya lagi-lagi beristigfar. Orang-orang mencari makan, seakan-akan gak pernah makan. Bisa-bisanya tamu datang ke belakang stand makanan, ngambil makanan sendiri. Baru kali ini saya lihat seperti itu. Saya yang sudah mengantri dan sudah di posisi paling depan diserobot juga. Akhirnya saya lebih memilih untuk mundur dari kumpulan orang bar bar.

Seperti di alam liar.

Setelah itu cerita dengan sepupu, dua dari Jakarta dan satu dari Medan. Tanggapanannya serupa. Yang dari Jakarta cerita, pas ngambil makanan tadi seperti di alam liar. Yang dari Medan bilang di sini harus keras. Sayapun bengong. Seliar apa orang-orang di Medan ini sampai makanan pun berebut kayak gak pernah makan makanan seperti sate padang, dim sum, bakso, nasi?

Walaupun saya bermarga Nasution, tapi dari kecil gak di Medan. Jadi gak tau liarnya seperti apa. Tapi dengan adanya kejadian-kejadian seperti ini, dan bila frekuensinya cukup tinggi, mungkin saya akan menjadi sosok yang lebih religius.

Iklan

2 pemikiran pada “Pengalaman “Spritual” di Medan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s